PEMETAAN SEBARAN MATERIAL PADATAN TERSUSPENSI MENGGUNAKAN TEKNOLOGI PENGINDRAAN JAUH DI MUARA SUNGAI WULAN, DEMAK

ABSTRAK 

Bayu Adi Prasetiyo. 260 202 141 200 36. Pemetaan Sebaran Material Padatan  Tersuspensi Menggunakan Teknologi Pengindraan Jauh di Muara Sungai Wulan,  Demak. (Baskoro Rochaddi dan Alfi Satriadi

Sungai Wulan yang terletak di Kabupaten Demak digunakan masyarakat  sebagai jalur keluar dan masuknya kapal nelayan serta saluran pembuangan  utama. Hal tersebut berdampak pada besarnya kandungan material padatan  tersuspensi yang terdapat pada sungai. Pengamatan sebaran material padatan  tersuspensi dibutuhkan untuk mengetahui pola sedimentasi dan penilaian kualitas  air. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui sebaran material padatan  tersuspensi di Muara Sungai Wulan menggunakan metode pengindraan jauh. Data  yang digunakan dalam penelitian ini adalah citra satelit Sentinel-2 dan konsentrasi  material padatan tersuspensi hasil uji gravimetri. Pengolahan data menggunakan  algoritma Lemigas (1997), Budhiman (2004), Parwati (2006), Laili (2015) dan  Metode Regresi (Linear, Eksponensial dan Logaritmik). Hasil analisis data  menunjukkan bahwa konsentrasi material padatan tersuspensi di sekitar muara  relatif rendah, sedangkan konsentrasi yang tinggi terdapat di arah timur muara  sungai atau di daerah yang berupa teluk. Algoritma yang memiliki nilai error  terkecil adalah algoritma Metode Regresi dengan MRE sebesar 10,12% dengan  nilai RMSE sebesar 4,3493. Berdasarkan hasil yang didapat, dapat disimpulkan  jika algoritma Metode Regresi merupakan algoritma yang paling sesuai untuk  pemetaan sebaran material padatan tersuspensi di Muara Sungai Wulan, Demak. 

Kata Kunci:, Material Padatan Tersuspensi, Pengindraan Jauh, Sentinel-2, Muara  Sungai Wulan

KAJIAN AWAL MIKROPLASTIK (≥ 60 µm) PADA MUARA SUNGAI KENDAL, KABUPATEN KENDAL, JAWA TENGAH

Kharisma Haidar Hanif 260 201 151 301 31. Kajian Awal Mikroplastik (≥ 60 µm) Pada Muara Sungai Kendal, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah (Jusup Suprijanto dan  Ibnu Pratikto) 

Plastik dapat dikelompokkan berdasarkan ukurannya yaitu makroplastik (> 25  mm), mesoplastik (5 mm – 25 mm), mikroplastik (5 mm – 1 µm), dan nanoplastik (< 1 µm). Kabupaten Kendal sebagai salah satu daerah di Provinsi Jawa Tengah, memiliki  jumlah sampah yang terus meningkat setiap tahunnya. Contohnya, pada tahun 2006  volume sampah di Kabupaten Kendal hanya 55,06 m3per hari dan pada tahun 2009  meningkat menjadi 63 m3per hari. Penambahan sampah yang terjadi tersebut dapat  menambah jumlah mikroplastik yang masuk ke laut di daerah Kabupaten Kendal. 

Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui jenis polimer, kepadatan, dan peta  kepadatan mikroplastik pada muara Sungai Kendal, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah.  Penelitian ini menggunakan metode deskriptif untuk mendapatkan gambaran  mengenai kepadatan dan jenis mikroplastik pada muara Sungai Kendal, Kabupaten  Kendal, Jawa Tengah. Materi dari penelitian ini adalah sampel air laut yang terdapat  mikroplastik. Lokasi pengambilan sampel tersebut menggunakan 20 stasiun. Sampel  air laut diambil menggunakan plankton net dan diberikan perlakuan yaitu pemberian  ethanol 70% 24,5ml untuk preservasi, H2O2 15% 250ml untuk mendegradasi bahan  organik, dan ZnCl2 800 gram untuk pemisahan densitas. Sampel yang telah diberikan  perlakuan tersebut kemudian di saring menggunakan sieve 74 µm dan kertas Whatman  36 µm. Pengamatan dilakukan untuk mengidentifikasi bentuk mikroplastik serta  melakukan perhitungan kepadatan mikroplastik. Identifikasi jenis polimer mikroplastik  menggunakan FTIR (Fouries Transform Infra Red). 

Hasil identifikasi bentuk mikroplastik didapatkan 4 bentuk yaitu fragmen, film,  pellet, dan fiber. Hasil identifikasi jenis polimer didapatkan 2 jenis polimer yaitu  polyethylene dan polypropylene. Perhitungan kepadatan mikroplastik menunjukkan  bahwa nilai kepadatan tertinggi terdapat pada Stasiun 20 dengan nilai 245.7 item/liter  dan kepadatan terendah terdapat pada Stasiun 1 dengan nilai 15.9 item/liter. Kepadatan mikroplastik tersebut dapat dipengaruhi oleh arus yang berada pada perairan  Kabupaten Kendal. 

Kata Kunci : Mikroplastik, Kepadatan, FTIR

POLA ARUS TERHADAP SEBARAN KONSENTRASI NITRAT DAN FOSFAT DI PERAIRAN PANTAI MANGUNHARJO, SEMARANG

ABSTRAK 

Ika Putri Hindaryani. 260202 151 200 23. Pola Arus terhadap Sebaran  Konsentrasi Nitrat dan Fosfat di Perairan Pantai Mangunharjo, Semarang. (Muhammad Zainuri dan Baskoro Rochaddi

Perairan Pantai Mangunharjo merupakan perairan penangkapan ikan yang  di sekitarnya terdapat aktivitas industri dan pemukiman padat penduduk. Limbah  industri dan rumah tangga yang tebawa oleh aliran sungai dan bermuara di Perairan  Pantai Mangunharjo dapat menyebabkan perubahan kualitas perairan yang  dipengaruhi oleh senyawa kimia seperti nitrat dan fosfat. Salah satu yang  mempengaruhi pola sebaran konsentrasi nitrat dan fosfat di perairan adalah arus  laut. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan: untuk mengetahui konsentrasi nitrat  dan fosfat secara horizontal dan pengaruh arus terhadap sebaran konsentrasi nitrat  dan fosfat di perairan Pantai Mangunharjo, Semarang. Pengambilan data lapangan  dilakukan 12 titik pada tanggal 1 Oktober 2018 serta data arus lapangan diambil hingga tanggal 3 November 2018 di Perairan Pantai Mangunharjo, Semarang.  Analisis kandungan nitrat dan fosfat air laut dilakukan di Laboratorium Pengujian  dan Peralatan (BPP) Srondol. Data arus lapangan diverifikasi dengan data model  untuk mengetahui kecepatan dan arah arus yang terjadi. Konsentrasi nitrat dan  fosfat tertinggi berada di stasiun 3 dengan nilai masing-masing sebasar 0,7835 mg/l  dan 1,1759 mg/l. Tingginya nilai konsentrasi tersebut dipengaruhi oleh lokasi  stasiun yang berada di muara sungai. Sementara nilai konsentrasi nitrat dan fosfat  terendah berada di stasiun 7 dan 12 yang lokasinya jauh dari muara dengan nilai  konsentrasi masing-masing sebesar 0,4892 mg/l dan 0.0837 mg/l. Pengambilan  sampel nutrien dilakukan pukul 10.30 WIB – 12.00 WIB dimana pada waktu  tersebut Perairan Pantai Mangunharjo masih mengalami fase surut. Pada saat surut,  diketahui arus bergerak dari arah timur ke arah barat laut. Pergerakan arus tersebut  sedikit berbeda dengan sebaran nitrat dan fosfat, dimana pada pola sebaran  konsentrasi nitrat dan fosfat pola kontur menyebar dominan ke arah timur dari  stasiun 3 yang merupakan sumber masukan terbesar nitrat dan fosfat dari limbah  yang terbawa aliran sungai. Kata Kunci: Nitrat, Fosfat, Kecepatan Arus, Pantai Mangunharjo.

KAJIAN PERBEDAAN KEDALAMAN DAN KETEBALAN LAPISAN TERMOKLIN PADA VARIABILITAS ENSO, IOD DAN MONSUN DI PERAIRAN SELATAN JAWA

ABSTRAK 

Firman Ramadhan. 260 202 161 400 68. Kajian Perbedaan Kedalaman dan  Ketebalan Lapisan Termoklin pada Variabilitas ENSO, IOD dan Monsun di  Perairan Selatan Jawa (Kunarso dan Anindya Wirasatriya) 

Perairan Selatan Jawa dipengaruhi oleh beberapa fenomena, yaitu sistem  monsun, El Niño Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD),  fenomena tersebut mempengaruhi nilai temperatur. Termoklin adalah lapisan yang  memiliki gradien temperatur vertikal yang signifikan di kedalaman tertentu,  sehingga erat kaitannya dengan nilai temperatur. Penelitian ini dilakukan untuk  mengetahui perbedaan kedalaman dan ketebalan lapisan termoklin di wilayah  pesisir dan laut lepas pada variabilitas ENSO, IOD dan monsun di perairan Selatan  Jawa. Penelitian ini menggunakan data temperatur vertikal harian dari argo float (2016 – 2019) untuk mengetahui distribusi temperatur vertikal. Hasil menunjukkan  bahwa batas atas dan batas bawah termoklin terdalam di pesisir terjadi saat IOD(-), yaitu tahun 2016 sebesar 60,17m, 154,58m dan tahun 2017 sebesar 62,08m,  154,17m, sedangkan saat IOD(+) batas atas dan batas bawah termoklin lebih  dangkal, yaitu tahun 2018 sebesar 42,92m, 136,71m dan tahun 2019 sebesar  39,25m, 129,63m. Hasil untuk laut lepas menunjukkan batas atas dan batas bawah  termoklin terdangkal di laut lepas terjadi saat IOD(-), yaitu tahun 2016 sebesar 58,92m, 156,25m dan tahun 2017 sebesar 60m, 152,92m, sedangkan saat IOD (+) 

batas atas dan batas bawah bertambah, yaitu tahun 2018 sebesar 67,08m, 175,42m dan tahun 2019 sebesar 59m, 172,92m. Hal ini karena IOD(-) di tahun 2016  memiliki nilai indeks DMI sebesar -1 dan di tahun 2019 terjadi IOD(+) dengan nilai  indek DMI sebesar 2. Kejadian IOD(-) membuat slope muka air laut di Samudera  Hindia bagian Timur menjadi lebih tinggi, sehingga tinggi nya slope muka air laut  membuat batas atas dan batas bawah lapisan termoklin menjadi lebih dalam di  pesisir Selatan Jawa, sedangkan di laut lepas Selatan Jawa mengangkat batas bawah  termoklin menuju kedalaman yang lebih dangkal sehingga mengurangi ketebalan  termoklin, begitu juga sebaliknya pada saat fenomena IOD (+). 

Kata Kunci : Lapisan termoklin, ENSO, IOD, monsun, perairan Selatan Jawa

VARIABILITAS KLIMATOLOGI BULANAN SUHU PERMUKAAN LAUT DAN KLOROFIL-A PADA PERAIRAN LAUT JAWA DI UTARA KABUPATEN JEPARA

ABSTRAK

Dwita Oktaviani Nurminda. 260 202 151 200 19. Variabilitas Suhu Permukaan Laut dan Klorofil-a pada Perairan Laut Jawa di Utara Kabupaten Jepara (Kunarso dan Petrus Subardjo)

Kabupaten Jepara merupakan salah satu wilayah yang memiliki potensi sumberdaya laut yang besar di Indonesia. Letak geografis yang strategis yaitu berbatasan langsung dengan Laut Utara Pulau Jawa menjadi salah satu faktor utamanya. Variabilitas klimatologi bulanan suhu permukaan laut dan klorofil-a berpengaruh terhadap variabilitas kesuburan perairan baik secara temporal maupun spasial. Klorofil-a merupakan salah satu parameter yang dapat dijadikan sebagai indikator tingkat kesuburan di suatu perairan. Tinggi rendahnya konsentrasi klorofil-a berkaitan dengan kondisi fisik oseanografi suatu perairan seperti suhu permukaan laut dan angin. Konsentrasi klorofil-a yang tinggi di suatu wilayah juga dapat dijadikan indikasi sebagai tempat berkumpulnya ikan. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh pemahaman yang lebih baik terkait variabilitas klimatologi bulanan suhu permukaan laut dan klorofil-a pada Laut Jawa di utara Kabupaten Jepara. Metode analisis spasial dan temporal diaplikasikan terhadap data ex-situ (remote sensing) suhu permukaan laut dan klorofil-A yang memanfaatkan data yang didapat dari data satelit Aqua MODIS selama periode 2014-2018 lalu di olah menggunakan software IDL (Interactive Data Language). Hasil analisis menunjukkan bahwa pada periode musim barat (DJF) tepatnya di bulan Februari terjadi upwelling pada Laut Jawa di utara Kabupaten Jepara hal ini dikarenakan angin permukaan dari arah barat hingga timur memiliki kecepatan tertinggi dibanding periode musim lainnya. Kondisi ini dapat ditandai dengan relatif rendahnya suhu permukaan laut dan tingginya konsentrasi klorofil-a dibandingkan dengan periode musim yang lain.

Kata Kunci: Suhu Permukaan Laut, Klorofil-a, Jepara, Laut Jawa, IDL

STUDI PERSISTENSI SUHU PERMUKAAN LAUT TINGGI (>30° CELCIUS) DI PERAIRAN SELAT MALAKA

ABSTRAK 

Metrio Swandiko. 260 202 161 200 13. Studi Persistensi Suhu Permukaan Laut Tinggi (>30°C) di Perairan Selat Malaka (Anindya Wirasatriya dan Jarot  Marwoto

Hot Event merupakan fenomena dengan suhu permukaan laut tinggi lebih  dari 30°C. Hot Event memiliki mekanisme yang khusus dalam pembentukannya  yaitu kecepatan angin yang lemah dan radiasi matahari yang tinggi. Hot Event memiliki peran penting dalam menyumbang bahang pada pacific warm pool di  Samudera Pasifik bagian barat dan ikut berperan dalam mengatur variasi iklim  global. Keberadaan pulau – pulau kecil di Samudera Pasifik menciptakan kecepatan  angin yang lemah. Indonesia yang merupakan negara kepulauan memiliki potensi  besar untuk melemahkan sirkulasi angin dan potensi kejadian Hot Event. Selat  Malaka merupakan selat terpanjang di Indonesia dan berpotensi untuk menjadi area  kajian Hot Event berdasarkan hasil studi pendahuluan. Fenomena Suhu Permukaan  Laut (SPL) yang tinggi (>30°C) dan konstan selama 13 tahun (2003 – 2015) di selat  Malaka merupakan hal unik dan belum ada yang mengkaji. Penelitian ini bertujuan  untuk mengidentifikasi dan mengetahui mekanisme terjadinya SPL tinggi (>30°C)  dan konstan di perairan selat Malaka selama 13 tahun (2013 – 2015). Metode yang  digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif. Data yang digunakan  adalah data SPL NGSST harian , angin CCMP , arus permukaan marine copernicus , data radiasi matahari ERA-5 dari tahun 2003 -2015 serta data batimetri ETOPO dan data topografi GTOPO. Pengolahan data menggunakan software bahasa  pemograman secara klimatologi , persentase SPL tinggi >30°C , angin lemah 2  m/det , radiasi matahari tinggi 200w/m² serta data batimetri ETOPO dan topografi  GTOPO. Variasi monthly climatology sebaran Suhu Permukaan Laut (SPL) yang  paling tinggi dan konstan di wilayah perairan selat Malaka terjadi pada musim timur  dengan kisaran SPL 30-32°C dan yang paling rendah pada musim barat dengan  SPL 28.5-30.5°C dan pada musim lainnya yaitu musim peralihan I dengan kisaran  SPL 29.5-32 °C dan musim peralihan II 29-31.5 °C. Fenomena SPL tinggi (>30°C)  dan konstan di wilayah kajian B terhadap kajian A dan C disebabkan adanya  pengaruh lemahnya kecepatan angin < 2 m/det di wilayah B dibandingkan wilayah  kajian A dan C karena topografi pulau sumatera dan wilayah Malaysia sehingga  melemahkan kecepatan angin, sedangkan wilayah kajian B lebih tinggi >30°C dan  konstan yang terjadi dibandingkan wilayah A dan C juga didukung tingginya radiasi  matahari serta dengan dugaan batimetri wilayah kajian B yang dikategorikan  dangkal sehingga proses pemanasan masa air di wilayah kajian B lebih cepat  dibandingkan wilayah kajian lainnya. 

Kata kunci: Hot Event, SPL, Angin, Radiasi Matahari, Topografi, Batimetri, Arus Permukaan, Selat Malaka.

PENGARUH ENSO DAN IOD TERHADAP SUHU PERMUKAAN LAUT DAN CURAH HUJAN DI LAUT NATUNA

ABSTRAK

Ardiansyah Desmont Puryajati. 26020216130069. Pengaruh ENSO dan IOD terhadap Suhu Permukaan Laut dan Curah Hujan di Laut Natuna (Anindya Wirasatriya dan Lilik Maslukah)

Laut Natuna merupakan bagian dari Laut Cina Selatan (LCS) dimana letaknya diantara dua samudera yaitu Samudera Pasifik dan Samudera Hindia. Penelitian sebelumnya yang mengkaji pengaruh ENSO terhadap suhu permukaan laut (SPL) dan klorofil-a menghasilkan ENSO memilki pengaruh yang besar terhadap SPL tetapi kurang terhadap klorofil. Berdasarkan penelitian tersebut dan juga mengambil dari referensi penelitian lain yang mengatakan pada Perairan Indonesia sangat dipengaruhi oleh IOD maka perlu dilaksanakan pendalaman lebih kanjut pada penelitian tersebut. Penelitian ini menggunakan data SPL dari citra satelit resolusi tinggi (MODIS dan PATHFINDER) serta data curah hujan dan angin dari Reanalysis Model (ERA-5) yang diolah menggunakan metode komposit dan korelasi pergrid. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa saat terjadi La-Niña IOD negatif SPL akan menurun 1oC dan curah hujan naik 7 mm perhari sedangkan saat El-Niño IOD positif SPL akan mengalami kenaikan sebesar 1oC sedangkan pada curah hujan akan mengalami penurunan sebesar 3 mm perhari. Kondisi SPL dan curah hujan lebih dipengaruhi oleh fenomena ENSO dibandingkan IOD. Hubungan antara ENSO terhadap curah hujan dan SPL di Laut Natuna tergolong cukup kuat sedangkan hubungan IOD terhadap curah hujan dan SPL di Laut Natuna tergolong cukup lemah. 

Kata kunci : SPL, Curah Hujan, ENSO, IOD, Laut Natuna