ABSTRAK 

Metrio Swandiko. 260 202 161 200 13. Studi Persistensi Suhu Permukaan Laut Tinggi (>30°C) di Perairan Selat Malaka (Anindya Wirasatriya dan Jarot  Marwoto

Hot Event merupakan fenomena dengan suhu permukaan laut tinggi lebih  dari 30°C. Hot Event memiliki mekanisme yang khusus dalam pembentukannya  yaitu kecepatan angin yang lemah dan radiasi matahari yang tinggi. Hot Event memiliki peran penting dalam menyumbang bahang pada pacific warm pool di  Samudera Pasifik bagian barat dan ikut berperan dalam mengatur variasi iklim  global. Keberadaan pulau – pulau kecil di Samudera Pasifik menciptakan kecepatan  angin yang lemah. Indonesia yang merupakan negara kepulauan memiliki potensi  besar untuk melemahkan sirkulasi angin dan potensi kejadian Hot Event. Selat  Malaka merupakan selat terpanjang di Indonesia dan berpotensi untuk menjadi area  kajian Hot Event berdasarkan hasil studi pendahuluan. Fenomena Suhu Permukaan  Laut (SPL) yang tinggi (>30°C) dan konstan selama 13 tahun (2003 – 2015) di selat  Malaka merupakan hal unik dan belum ada yang mengkaji. Penelitian ini bertujuan  untuk mengidentifikasi dan mengetahui mekanisme terjadinya SPL tinggi (>30°C)  dan konstan di perairan selat Malaka selama 13 tahun (2013 – 2015). Metode yang  digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif. Data yang digunakan  adalah data SPL NGSST harian , angin CCMP , arus permukaan marine copernicus , data radiasi matahari ERA-5 dari tahun 2003 -2015 serta data batimetri ETOPO dan data topografi GTOPO. Pengolahan data menggunakan software bahasa  pemograman secara klimatologi , persentase SPL tinggi >30°C , angin lemah 2  m/det , radiasi matahari tinggi 200w/m² serta data batimetri ETOPO dan topografi  GTOPO. Variasi monthly climatology sebaran Suhu Permukaan Laut (SPL) yang  paling tinggi dan konstan di wilayah perairan selat Malaka terjadi pada musim timur  dengan kisaran SPL 30-32°C dan yang paling rendah pada musim barat dengan  SPL 28.5-30.5°C dan pada musim lainnya yaitu musim peralihan I dengan kisaran  SPL 29.5-32 °C dan musim peralihan II 29-31.5 °C. Fenomena SPL tinggi (>30°C)  dan konstan di wilayah kajian B terhadap kajian A dan C disebabkan adanya  pengaruh lemahnya kecepatan angin < 2 m/det di wilayah B dibandingkan wilayah  kajian A dan C karena topografi pulau sumatera dan wilayah Malaysia sehingga  melemahkan kecepatan angin, sedangkan wilayah kajian B lebih tinggi >30°C dan  konstan yang terjadi dibandingkan wilayah A dan C juga didukung tingginya radiasi  matahari serta dengan dugaan batimetri wilayah kajian B yang dikategorikan  dangkal sehingga proses pemanasan masa air di wilayah kajian B lebih cepat  dibandingkan wilayah kajian lainnya. 

Kata kunci: Hot Event, SPL, Angin, Radiasi Matahari, Topografi, Batimetri, Arus Permukaan, Selat Malaka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *