Apa itu Peta?

Apa itu Peta?

Mari mengenal lebih tentang peta 🙂

1. Peta adalah suatu gambaran dari unsur-unsur alam dan atau buatan manusia, yang berada di atas maupun di bawah permukaan bumi yang digambarkan pada suatu bidang datar dengan Skala tertentu.

2. Skala adalah perbandingan jarak dalam suatu Peta dengan jarak yang sama di muka bumi.

3. Geospasial atau ruang kebumian adalah aspek keruangan yang menunjukkan lokasi, letak, dan posisi suatu objek atau kejadian yang berada di bawah, pada, atau di atas permukaan bumi yang dinyatakan dalam sistem koordinat tertentu.

4. Data Geospasial adalah data tentang lokasi geografis, dimensi atau ukuran, dan/atau karakteristik objek alam dan/atau buatan manusia yang berada di bawah, pada, atau di atas permukaan bumi.

5. Informasi Geospasial adalah Data Geospasial yang sudah diolah sehingga dapat digunakan sebagai alat bantu dalam perumusan kebijakan, pengambilan keputusan, dan/atau pelaksanaan kegiatan yang berhubungan dengan ruang kebumian.

6. Peta Dasar adalah Peta yang menyajikan unsur-unsur alam dan atau buatan manusia, yang berada di permukaan bumi, digambarkan pada suatu bidang datar dengan Skala, penomoran, proyeksi, dan georeferensi tertentu.

7. Peta Rencana Tata Ruang Wilayah nasional menggunakan Peta Dasar Skala Minimal 1:1.000.000, provinsi menggunakan Peta Dasar Skala Minimal 1:250.000, Kabupaten menggunakan Peta Dasar Skala Minimal 1:50.000, Kota menggunakan Peta Dasar Skala Minimal 1:25.000. Untuk kota yang masih berada pada kabupaten menggunakan Peta Dasar Skala Minimal 1:10.000, sedangkan untuk wilayah perkotaan yang mencakup 2-lebih wilayah kabupaten menggunakan Peta Dasar Skala Minimal 1:50.000.

Sumber : Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No.8 Tahun 2013 tentang Ketelitian Peta Rencana Tata Ruang

#SharingIsCaring
#RegisterInfo
Be Spatial To Be Special

SATELIT NOAA

SATELIT NOAA

Satelit NOAA (National Oceanic and Atmospheric Administration) merupakan satelit meteorologi seri ke-3 milik Amerika. Sebelumnya, Satelit Seri-1 (TIROS, Television and Infra Red Observation Satellite) dan Satelit Seri-2 (IOS, Infra Red Observation Satellite). Saat ini, NOAA memili 6 sensor yaitu:

  1. Advanced Very High Resolutin (AVHRR)
  2. Tiros Operational Vertical Sonde (TOVS)
  3. High Resolution Infrared Sounder (merupakan bagian dari TOVS)
  4. Data Collection System (DCS)
  5. Space Environment Monitor (SEM), dan
  6. Search and Rescue Satellite System (SARSAT).

Diperlukan piranti lunak tertentu untuk mengunduh Citra Satelit NOAA, salah satunya adalah menggunakan Piranti Lunak NOAA Capture dan membutuhkan receiver. Secara umum, kegunaan piranti lunak dapat digunakan untuk merencanakan orbit pengambilan data satelit pada suatu area serta meninjau ulang rencana orbit.

Satelit NOAA digunakan untuk memperoleh informasi mengenai keadaan fisik lautan/samudra dan atmosfer. Dari ke enam sensor, sensor AVHRR adalah sensor yang tepat digunakan untuk mengamati kondisi permukaan bumi. Data AVHRR dari Satelit NOAA dapat digunakan untuk menganalisis berbagai parameter yang berkaitan dengan bidang hidrologi, oseanografi, hingga meteorologi. Tidak hanya itu, penggunaannya dapat pula diaplikasikan untuk monitoring vegetasi hingga kebakaran hutan, dan untuk ekstraksi berbagai data. Hal ini memungkinkan mengingat karakteristik Data AVHRR yang dihasilkan dari 5 saluran dengan panjang tertentu dan area sapuannya yang cukup luas (2.590 km). Aplikasi penggunaan Satelit NOAA di indonesia tentu akan sangat bermanfaat mengingat karakteristik Indonesia sebagai negara yang memiliki perairan luas. Sensor AVHRR ini dapat dimanfaatkan untuk eksplorasi sumber daya laut yang ada di Indonesia seperti menentukan lokasi potensial penangkapan ikan (AR).

Source : Parangtritis Geomaritime Science Park (PGSP) (2016)

#RegisterInfo

#SharingIsCaring

-Be Spatial To Be Special-

REKTIFIKASI CITRA

REKTIFIKASI CITRA

Metode Rektifikasi (Image to Map)

Rektifikasi adalah suatu proses melakukan transformasi data dari satu sistem grid menggunakan suatu transformasi geometrik. Oleh karena posisi piksel pada citra output tidak sama dengan posisi piksel input (aslinya) maka piksel-piksel yang digunakan untuk mengisi citra yang baru harus di-resampling kembali. Resampling adalah suatu proses melakukan ekstrapolasi nilai data untuk piksel-piksel pada sistem grid yang baru dari nilai piksel citra aslinya. Rektifikasi juga dapat diartikan sebagai pemberian koordinat pada citra berdasarkan koordinat yang ada pada suatu peta yang mencakup area yang sama. Bisa dilakukan dengan input GCP atau rectification  image to map dan diperlukan peta (dengan sistem koordinat tertentu) atau kumpulan GCP untuk objek yang sudah diketahui pada citra.

Ada beberapa alasan atau pertimbangan, kenapa perlu melakukan rektifikasi, diantaranya adalah untuk:

  1. Membandingkan 2 citra atau lebih untuk lokasi tertentu
  2. Membangun SIG dan melakukan pemodelan spasial
  3. Meletakkan lokasi-lokasi pengambilan “training area” sebelum melakukan klasifikasi
  4. Membuat peta dengan skala yang teliti
  5. Melakukan overlay (tumpang susun) citra dengan data-data spasial lainnya
  6. Membandingkan citra dengan data spasial lainnya yang mempunyai skala yang berbeda.
  7. Membuat mozaik citra
  8. Melakukan analisis yang memerlukan lokasi geografis dengan presisi yang tepat

Lalu apa bedanya Georeferensi dan rektifikasi?

Terdapat sedikit perbedaan antara georeferensi dan rektifikasi. Georeferensi adalah proses penyamaan sistem koordinat dari peta ke citra, dari cita ke citra maupun dari peta ke peta, sedangkan rektifikasi adalah proses transformasi dari suatu sistem grid kedalam grid yang lain menggunakan persamaan polinomial tertentu. Jadi proses rektifikasi citra dengan peta akan meliputi proses georeferensi, karena sistem proyeksi berkaitan juga dengan sistem koodinat. Georeferensi dari citra ke citra tidak terektifikasi kalau citranya sama-sama belum di rektifikasi, dan sebaliknya bila salah satu citra sudah direktifikasi maka georeferensi citra ke citra sama dengan rektifikasi (AR).

#RegisterInfo

#SharingIsCaring

-Be Spatial To Be Special-